Akhirnya setelah mengalami proses birocrazy yang panjang dan berliku, kudapatkan juga ijin keluar dan segala penunjangnya (maksute akomodasi dan allowance), sengaja kupilih SQA daripada GRD, bukannya tidak nasionalis, namun udah keseringen naek, jadi agak bosen, tapi kalo ada kesempatan mau juga tuh naik pesawat barunya. Ternyata pesawatnya memang lebih lega, dengkul ora ketatap-tatap, setelah melewati urusan imigrasi dan tidak menunggu lama karena pesawatnya sangat tepat waktu, akhirnya bisa merasakan perjalanan nyaman selama 1 jam, dan plus 1 jam karena perbedaan waktu dengan jakarta.
bahaya swine flu ternyata menyebabkan para penumpang ada yang memakai masker meskipun sangat sedikit, ternyata memang warga singapura tidak terlalu peduli dengan wabah penyakit yang telah mendunia itu, sesampainya di terminal 2 keddatangan saya sempatin jalan2 dulu karena melihat antrean imigrasi yang mengular, sambil terpikir cari medical centre, soalnya takut juga dengan wabah penyakit itu, waktu di jakarta belum sempat karena berpikir untuk vaksin influensa yang sebesar 200ribu, karena gw pikir kalo batal berangkat buat apa juga vaksin, akhirnya setelah tanya2 mbak information centre yang bertebaran sangat banyak ketemu juga tuh medical centre, dan memang biaya vaksinnya lebih mahal, sekitar 50S$, kalo dirupiahkan sekitar 350 ribu, ditawar pun ndak bisa... nasip2x
Setelah itu kembali mencari loket imigrasi sambil sepanjang perjalanan menikmati kemegahan changi airport yang kaya' mall, pengen beli2 tapi uang yang saku yang diberikan kok yo mepet banget, palagi harga2 di singapura yang menggila.
Akhirnya setelah urusan imigrasi selesai dan tidak serumit apa yang dikatakan teman saya, mungkin dia wajahnya mencurigakan kali' ya sampe diharuskan lepas gesper dan copot sepatu plus kaus kaki, ndak seperti wajah saya selalu ramah pada setiap wanita.....qeqeqe, kemudian saya mencari sekiranya angkutan apa yang bisa membawa saya ke copthrone waterfront hotel melalui free internet di bandara dan nanya lagi ke mbak2 information centre, katanya kalo taksi bisa menghabiskan sekitar 20S$, wah nambah tipis aja nih dompet, akhirnya ketemu juga angkutan murah meriah, shutle bus yang direct ke hotel, cuma 9S$, oiya sekeluarnya dari pintu kedatangan, kondisinya sangat beda sama soekarno hatta, disini sepi... ndak ada calonya, ndak ada yang narik2 naek taksinya, sangat tertib dan bersih, soalnya berangkat tadi kok ngerasain soekarno hatta jadi kaya' stasiun gini....
Perlu diketahu bahwa shutle bus, konsepnya seperti bus damri tetapi bedanya yang nini langsung direct ke masing2 tujuan penumpang, yang jumlahnya sekitar 7 orang, bagi orang singapura mungkin njengkelin ya nih shutle kaya' bus bandara kita yang muter2 dulu sampe penuh, tapi bagi saya sih lumayan bisa sightseeing gratis... "muter terus pak, gw jabanin ajah". namun ternyata ndak parah2 amat, meski terisi cuma 5 orang, mau juga dia cabut dari bandara, perjalanan dari bandara ke hotel sepertinya melewati southern ring road, dimana pemandangannya pantai, dan saya liat sendiri proses reklamasi (perluasan area) yang katanya menggunakan pasir dari indonesia.... waduh... menyedihkan....

sesampainya di hotel ternyata hotelnya ndak mewah2 amat, dan kamarnya juga biasa dibandingkan dengan tarifnya yang 2.2 juta/hari kok ndak sebanding, tapi biarlah ini sebagai pelajaran. Pak James, lain kali mungkin saya yang cari hotelnya sendiri. tapi ternyata ada kelebihannya, kamar mandinya 2x ukuran kamar mandi hotel biasa, terus ada pintu sambung ke kamar sebelah (2 lapis) mungkin kalo bawa keluarga besar cocok kali', dan ada setrikaan plus papannya... hebat juga... ndak takut ilang qeqeqe
Mencoba menikmati kasurnya dan lelap sekitar 2 jam, akhirnya si Rizky dateng juga, lumayan ada guide gratisan... thank riz. kita jalan2 ke orchad road naek bus AC, yang haltenya sangat nyaman dilengkapi peta rute dan digitally estimated arrived time, sesampe di orchad, yang ternyata cewek2 disini baik yang lokal maupun pendatang bule atau asia penampilannya... WAW... cukup modis dengan model pakaian yang "ngirit kain"... fuiiuuh... sabar2x. Orchad road sebenarnya memiliki konsep yang sama seperti malioboro, atau cihampelas, atau ngagel rejo kalo di kampung saya... hehehe, cuma jalan2 sebentar dan makan rawon seharga 42 ribu rupiah di Lucky plaza (katanya sih yang punya tuh kantin orang surabaya).... ampuuun deh tambah abis aja nih, teman2 mohon maaf ya kalo ndak bawa oleh2, saya pulang dengan selamat sentosa (bukan nama orang) kalian pasti seneng kan... hehehe, 
dan saatnya tidur nih dah ngantuk, jam udah menunjukan pukul 23.00 waktu sini.... *bersambung*